Indeks Kebahagiaan Babel Makin Meningkat, Masyarakat Makin Bahagia?
Judul :"Indeks Kebahagiaan Babel Makin Meningkat, Masyarakat Makin Bahagia?"
Narasumber : Dr. Reniati, S.E, M.Si. (Ketua ISEI Cabang Babel)
Tema : Kebahagiaan Masyarakat
Tanggal : 22 Januari 2022
Angka indeks kebahagiaan yang merupakan indeks komposit yang tersusun dari 3 dimensi, yaitu dimensi kepuasan hidup (life satisfaction), dimensi perasaan (affect), dan dimensi makna hidup (eudaimonia). Pengukuran tingkat kebahagiaan di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2014 melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang dilaksanakan setiap 3 tahun sekali.
Dimensi kepuasan hidup terdiri dari 9 indikator, yaitu kepuasan terhadap pendidikan dan keterampilan, kepuasan terhadap pekerjaan/usaha/kegiatan utama, kepuasan terhadap kesehatan, kepuasan terhadap rumah dan fasilitas rumah, kepuasan terhadap keharmonisan keluarga, kepuasan terhadap ketersediaan waktu luang, kepuasan terhadap hubungan sosial di lingkungan, kepuasan terhadap keadaan lingkungan, serta kepuasan terhadap kondisi keamanan.
Dimensi perasaan terdiri dari 3 indikator, yaitu perasaan senang/riang/gembira, perasaan tidak khawatir/cemas, dan perasaan tidak tertekan. Adapun dimensi makna hidup terdiri dari 6 indikator, yaitu kemandirian, penguasaan lingkungan, pengembangan diri, hubungan positif dengan orang lain, tekanan hidup, dan penerimaan diri.
Indeks kebahagiaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada pada ranking ke-14 dari 34 provinsi di Indonesia, ini termasuk 15 provinsi yang memiliki indeks kebahagiaan tinggi. Bangka Belitung juga memiliki indeks kebahagiaan yang cenderung meningkat selama tiga kali survei. Pada tahun 2014, 68,45, kemudian 2017 meningkat menjadi 71,75 dan pada tahun 2021, mengalami peningkatan kembali menjadi 73,25.
Jika kita bandingkan indeks kebahagiaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan wilayah lain di Sumatera menunjukkan bahwa indeks kebahagiaannya menempati ranking ke-3 setelah Jambi yang memiliki indeks 75,17, Kepulauan Riau sebesar 74,78 dan Babel 73,25, di regional Sumatera indeks kebahagiaan yang paling rendah ditempati oleh Provinsi Bengkulu dengan angka 69,74.
Pertumbuhan ekonomi Babel di tahun 2014 berada pada 4,67 persen, dengan tangkat kemiskinan sebesar 4,97 persen, tingkat pengangguran sebesar 5,14 persen, angka IPM 68,27 poin. Sedangkan di tahun 2017 pertumbuhan ekonomi malah mengalami penurunan menjadi 4,51 persen, kemiskinan mengalami peningkatan cukup signifikan yaitu 5,30 persen, di sisi lain pengangguran mengalami penurunan yang cukup signifikan 3,78 persen dan angka IPM tetap meningkat yaitu 69,99 poin.
Tentunya kita harus bersyukur bahwa indeks kebahagiaan masyarakat Babel makin meningkat. Pada kenyataannya, ketika penulis bertemu dengan masyarakat petani mereka menyatakan bahagia karena kenaikan harga komoditas pertanian mereka meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi di satu sisi mereka menyayangkan masih tingginya harga pupuk untuk sawit, penyakit pada tanaman karet dan lada yang masih belum mampu ditanggulangi.
Pada sisi lain pada lapangan usaha perdagangan pasar sudah mulai menggeliat, penjualan sudah mulai meningkat termasuk mobil dan motor yang dahulu sempat terkena imbas Covid-19, di sisi lain ada permintaan BBM yang makin besar, menjadikan distribusi dan suplainya terganggu.
Perlu digarisbawahi bahwa indeks kebahagiaan juga sangat berhubungan dengan pemahaman dan pengamalan masyarakat dengan nilai-nilai keagamaan yang diyakini. Makin baik pemahaman dan pengamalannya, tentu mereka lebih bersyukur dalam menjalani kehidupan dan makin bersyukur mereka akan bahagia.
Indeks kebahagiaan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan masyarakat. Tetapi kita harus ingat bahwa kebahagiaan tidak hanya karena materi saja yang makin baik, tetapi juga harus diimbangi oleh rohani yang makin kuat dalam memegang nilai-nilai agama yang kita yakini. Dengan demikian, baik raga dan jiwa kita, jasmani dan rohani kita mencerminkan kebahagiaan yang hakiki.
Dan perbanyaklah bersyukur maka engkau akan bahagia, begitu kata petuah para alim ulama. Untuk itu, indeks kebahagiaan harus dilengkapi juga dengan indeks kesalehan sosial yang mencerminkan seberapa dekat hubungan manusia dan sang Pencipta dan bagaimana mengimplementasikannya sebagai modal sosial dalam bermasyarakat.